Rabu, 13 Februari 2013

Makalah Model Pengembangan Kurikulum

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Model – model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Sungguh sangat naif bagi para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru, kepala sekolah, pengawas bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan, kegunaan dan urgensi setiap model – model pengembangan kurikulum.
Salah satu fungsi pendidikan dan kurikulum bagi masyarakat adalah menyiapkan peserta didik untuk kehidupan di kemudian hari. Oleh karena itu ada beberapa ciri dasar yang dapat disimpulkan atas penyelenggaraan kurikulum dan pendidikan yaitu sadar akan tujuan, orientasi ke hari depan, dan sadar akan penyesuaian. [1]
Pemahaman tentang kurikulum sendiri merupakan salah satu unsur kompetensi paedagogik yang harus dimiliki seorang guru. Kompetensi paedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran pada peserta didik yang salah satunya kemampuan pengembangan kurikulum.
Pada tahun 2006 pemerintah menerapkan pemberlakuan tentang kurikulum baru, yang berlaku sebagai pengganti kurikulum 2004 yaitu Kurukulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum ini merupakan inovasi baru dalam bidang kurikulum pendidikan di Indonesia, karena dengan adanya KTSP pihak satuan pendidikan dituntut kemampuannya dalam menyusun kurikulum sesuai dengan keadaan atau kondisi dan keperluan satuan sekolah tersebut yang lebih dikenal dengan system desentralisasi. Yang tentunya ini merupakan perbedaan pada kurikulum sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada sekolah untuk melaksanakannya saja sedangkan yang membuat dan menyusunnya adalah pemerintah yang dikenal dengan system sentralisasi.
Dengan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat, menuntut kemajuan masyarakat sebagai pelaku pendidikan juga berkembang, untuk itu pemerintah melalui guru berusaha mewujudkan sumber daya manusia yang kompeten sebagai produk hasil dari proses pendidikan. Maka dari itu perlu adanya pengembangan kurikulum sebagai modal dasar agar pembelajaran dapat berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 
Banyak model dalam pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan, untuk lebih jelasnya maka makalah ini akan membahas mengenai Model – Model Pengembangan Kurikulum.

B.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang hendak diperoleh dari penulisan makalah ini antara lain :
1.      Agar mahasiswa dapat memahami tentang betapa pentingnya kurikulum dalam proses pendidikan.
2.      Agar mahasiswa dapat memahami mengapa diperlukannya pengembangan kurikulum dalam proses pendidikan.
3.      Agar mahasiswa mengetahui jenis – jenis Model Pengembangan Kurikulum.


BAB II
PEMBAHASAN
MODEL – MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

A.    Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum mempunyai makna yang cukup luas, menurut Nana Syaodih Sukmadinata kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curruculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curruculum improvment). Sedangkan model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam betuk naratif, matematis, grafis serta lambang – lambang lainnya. [2]
Dari pengetian di atas dapat disimpulkan bahwa model pengembangan kurikulum adalah berbagai bentuk atau model yang nyata dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada.

B.     Model – Model Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikukum pada dasarnya berkisar pada hal – hal yang berkenaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju terlalu cepat, sedangkan pendidikan merupakan proses transformasi, manusia baik yang belajar maupun yang mengajar dalam keadaan terbatas kemampuannya, maka dari itu untuk menyelaraskan ketiganya diperlukan adanya pengembangan kurikulum.
            Berdasarkan perkembangan dan pemikiran para ahli kurikulum, dewasa ini telah banyak disajikan model – model pengembangan kurikulum yang dapat dijadikan acuan atau diterapkan sepenuhnya diantaranya sebagai berikut:

1.      Model Pengembangan Kurikulum menurut Ralf Tayler
Tayler mengenalkan model ini dalam bukunya Basic Prinsiples of Curriculum and Instruction, ada empat hal yang dianggap fundamental dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1)      Menentukan tujuan
2)      Menentukan pengalaman belajar
3)      Mengorganisasi pengalaman belajar
4)      Evaluasi (Sumatif dan formatif) [3]

2.      Model Pengembangan Kurikulum menurut Robert S. Zails
1.      Model Administratif
Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administrasi atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari administrator pendidikan dan mengunakan prosedur administrasi.
Model pengembangan ini bersifat sentralisasi. Cara kerjanya yaitu atasan – bawahan (top – down) Kerjanya model ini adalah pejabat pendidikan membentuk panitia pengarah yang biasanya terdiri atas pengawas pendidikan, kepala sekolah dan staf pengajar inti. Panitia pengarah ini bertugas merencanakan memberikan pengarahan tentang garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan umum pendidikan. Selesai pekerjaan tersebut mereka menunjuk kelompok kerja sesuai dengan keperluan anggota, kelompok kerja umumnya terdiri atas staf pengajar dan spesialis kurikulum. Tugasnya adalah menyusun tujuan khusus, isi dan kegiatan belajar. Hasil pekerjaan direvisi oleh panitia pengarah. Bila dipandang perlu, akan diadakan uji coba untuk meneliti kelayakan pelaksanaannya.
Dari uraian mengenai model pengembangan kurikulum administratif kita dapat menandai ada 2 kegiatan di dalamnya yaitu kegiatan penyiapan para pelaksana kurikulum melalui berbagai bentuk pelatihan agar dapat melaksanakan kurikulum dengan baik, dan kegiatan evaluasi.

2.      Model Grass – Roots
Model pengembangan kurikulum ini merupakan kebalikan dari model administratif. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum bukan datang dari atas tetapi dari bawah ( bottom – up ).
Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru, fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass root tampaknya akan lebih baik.
Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.[4] Kurikulum ini sangat bersifat desentralisasi, karena segala ide mulai dari perencanaan, penyusunan sampai pelaksanaannya di lapangan adalah hak otonomi sekolah tersebut, dan pemerintah atau pengambil kebijakan yang lebih tinggi tidak mempunyai kewenangan untuk mengubahnya.
Dalam pengembangan kurikulum model grass – roots, ada 4 prinsip penting yang dikemukakan oleh Smith, Stanley, dan Shores (1957 dalam Zais, 1976: 449), yakni:
1.         kurikulum akan bertambah baik hanya kalau kompetensi profesional guru bertambah baik
2.         kompetensi guru akan bertambah baik jika guru – guru ikut dilibatkan dalam masalah perbaikan (revisi) kurikulum
3.         jika para guru bersama menanggung bentuk – bentuk yang menjadi tujuan yang dicapai, dalam memilih, mengidentifikasi dan memecahkan masalah – masalah yang dihadapi, serta dalam memutuskan dan menilai hasil, keterlibatan mereka akan lebih terjamin.
4.         sebagai orang yang bertemu dalam kelompok tatap muka, mereka akan mengerti satu dengan yang lainnya dengan lebih baik[5]

Dari  uraian diatas jelaslah bahwa untuk menjadi pengembang kurikulum yang handal guru dituntut untuk memiliki sejumlah kemampuan, yaitu dengan cara memberikan kesempatan untuk terlibat secara langsung menghadapi dan memecahkan masalah – masalah kurikulum.  
3.      Model Beuchamp
Dalam model ini Beauchamp mengemukakan 5 hal dalam pengembangan kurikulum yaitu :
1.      Menetapkan lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut
2.      Menetapkan personalia yaitu siapa saja yang terlibat
3.      Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum
4.      Implementasi kurikulum
5.      Evaluasi kurikulum[6]
4.      Model Arah balik Taba
Menurut model Taba, pengembangan kurikulum dilandaskan dan dilaksanakan dalam 5 langkah:
1.      Membuat unit percobaan (producing pilot units)
2.      Menguji unit – unit eksperimen (testing eksperimental units)
3.      Merevisi dan mengkonsolidasi
4.      Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum
5.      Implementasi dan desiminasi (mengadakan perbaikan dan penyimpulan)[7]
5.      Model Rogers.
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model ini yang dikenal dengan Model Relasi Interpersonal Roger (Rogers Interpersonal Relation Model) diantaranya:
1.      pemilihan target dari sistem pendidikan
2.      partisipasi guru dalam pengalaman sekelompok intensif
3.      pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran
4.      partisipasi orang tua dalam kelopok yang intensif.
Apabila diperhatikan langkah – langkah dalam model relasi interpersonal ini, tidak satupun yang  mengemukakan tentang rancangan tertulis.
Rogers lebih mementingkan kegiatan pengembangan kurikulum daripada rancangan pengembangan kurikulum tertulis, yakni melalui aktifitas dan interaksi dalam pengalaman kelompok intensif yang terpilih.

6.      The Demonstration Model
Model ini pada dasarnya bersifat grass roots, yang datang dari bawah. Bedanya pada model grass roots pengembangan kurikulum adalah murni dari orang – orang yang berada dalam suatu sekolah  tanpa campur tangan oleh pemerintah dan para ahli.
Menurut Smith, Stanley dan Shores ada 2 variasi dalam model ini yaitu,
-          Sekelompok guru dari suatu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk oleh pengambil kebijakan untuk melakukan percobaan tentang salah satu atau beberapa komponen kurikulum.
-          Kurang bersifat formal, yaitu beberapa orang guru merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, kemudian mereka mencoba mengadakan penelitian, perbaikan dan pengembangan sendiri.

7.      The Systematic Action – Research Model
Model ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial, sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat. Model ini terdiri atas 2 langkah yaitu:
-          Mengadakan kajian seksama tentang masalah – masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, dan mengidentifikasinya.
-          Implementasi dari keputusan yang diambil dari tindakan pertama, pengumpulan data dan fakta dan menyiapknnya bagi evaluasi tindakan.

8.      Emerging Technical Model
System analisys model berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Tersusun atas beberapa langkah yaitu:
-          Menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai siswa
-          Menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian – ketercapaian hasil belajar yang harus dikuasai siswa
-          Mengidentifikasi tahap – tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan
-          Membandingkan biaya dari beberapa program pendidikan.








BAB III
SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas pada Makalah Model – Model Pengembangan Kurikulum , maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, antara lain:
1.   Dalam usaha pengembangan kurikulum, dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu pengembangangan kurikulum yang bersifat desentralisasi, dan pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi. 

2.      Model Pengembangan Kurikulum menurut Ralf Tayler
Yang diperlukan dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
·         Menentukan tujuan
·         Menentukan pengalaman belajar
·         Mengorganisasi pengalaman belajar
·         Evaluasi (Sumatif dan formatif)

3.      Model Pengembangan Kurikulum menurut Robert S. Zails
a.      Model Administratif
b.      Model Grass – Roots
c.       Model Beuchamp
d.      Model Arah balik Taba
e.       Model Rogers.
f.        The Demonstration Model
g.      The Systematic Action – Research Model
h.      Emerging Technical Model

4.      Hal yang dapat dikembangkan dari upaya pengembangan kurikulum sebagai sebuah sistem dalam kegiatan pendidikan yaitu:
  1. Pertama, pendidikan harus terus dikembangkan, begitu juga kurikulum harus terus dibenahi sampai kapanpun. Pembenahan kurikulum tidak hanya dari level pemerintah, akan tetapi pembenahan bisa dilakukan kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun sesuai dengan proporsi, artinya bahwa kurikulum tidak statis, setiap saat dia terus dinamis dan berubah.

  1. Kedua, bahwa lingkungan masyarakat, teknologi dan informasi terus menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan oleh sekolah, oleh pendidikan dan tentunya oleh kurikulum. Kecepatan mengakses, menjadikan lingkungan sebagai instrumen pengembangan  kurikulum harus selalu dikedepankan oleh siapapun, dengan itu pendidikan tidak akan tertinggal oleh kebutuhan dan harapan dari masyarakat pengguna jasa pendidikan.

5.      Upaya pembinaan kurikulum yang dilakukan guru bertujuan meningkatkaan kualitas proses pengajaran dan hasil belajar yang dicapai siswa.



Daftar Pustaka

Dimyati & Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, 2006 (Jakarta : Rineka Putra)

M. Zaeni Mustofa. Model – Model Pengembangan kurikulum. (21/04/2012), (07.15am), downlad.

Rahayu Candra W. Model – Model Pengembangan kurikulum dan Fungsinya bagi Guru. (21/04/2012), (07.08 am), download.

Sukanto. Pengembangan Kurikulum. 2010. Medan : Fakultas Tarbiyah IAIN

MAKALAH
 “Model – Model Pengembangan Kurikulum”


Mata Kuliah      : Pengembangan Kurikulum PAI
Semester              : VI – A



Disusun Oleh Kelompok: VI


Abdul Ajiz Nasution
Iis Mayani
Yonesti


Dosen Pembimbing :  Dr. WAHYUDIN NUR NST.











STAI SYEKH H. ABDUL HALIM HASAN
AL – ISHLAHIYAH BINJAI
T.A. 2011/ 2012


Kata Pengantar


Tiada sepatah kata pun yang pantas kita ucapkan kecuali Syukur dan Hamdalah karena berkat Keridhaan, Taufik, Rahmad dan HidayahNya kita semua diberikan kenikmatan, kesehatan, keselamatan, kesempatan dan kelebihan ilmu pengetahuan sehingga makalah Pengembangan Kurikulum PAI tentang “ Model – Model Pengembangan Kurikulum” dapat terselesaikan.
Shalawat teriring salam kita persembahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang telah mengantarkan umat manusia dari alam Jahiliyah ke alam terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan hingga kita dapat menimba ilmu yang bermanfaat seperti saat ini.
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas perkuliahan selama satu semester pada mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAI.
Ungkapan terimakasih tidak lupa kami sampaikan kepada Dosen Pembimbing Bapak DR. Wahyudin Nur Nst. yang telah membimbing kami, juga rekan – rekan seperjuangan yang sudah turut serta membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan partisipasi dari rekan-rekan mahasiswa/i berupa kritik dan saran demi penyempurnaan makalah ini kedepannya.


Binjai,   April 2012
Penyusun












Daftar Isi

Kata Pengantar ....................................................................................................  i
Daftar Isi ...............................................................................................................  ii

BAB I     PENDAHULUAN................................................................................ 1
A.    Latar Belakang Masalah ..................................................................  1
B.    Tujuan Penulisan ..............................................................................  2
                           
BAB II    PEMBAHASAN
                (Model – Model Pengembangan Kurikulum).................................... 3
A.    Pengertian Pengembangan Kurikulum............................................. 3
B.    Model – Model Pengembangan Kurikulum ....................................  3
1.      Model Pengembangan menurut Ralf Tayler  .............................  3
2.      Model Pengembangan menurut Robert S. Zails......................... 4
a.      Model Administratif.............................................................. 4
b.      Model Grass – Roots............................................................ 4
c.      Model Beuchamp.................................................................. 6
d.      Model Arah balik Taba......................................................... 6
e.      Model Rogers. ......................................................................  6
f.        The Demonstration Model ...................................................  7
g.      The Systematic Action – Research Model ............................  7
h.      Emerging Technical Model ..................................................  7

BAB III SIMPULAN........................................................................................... 8
Daftar Pustaka                                                                                                        10


 
 


[1] Sukanto, Pengembangan Kurikulum, Medan, Fakultas Tarbiyah IAIN, 2010, hlm. 69
[2] S. Rahayu Candra W. Model – Model Pengembangan kurikulum dan Fungsinya bagi Guru. (21/04/2012), (07.08 am), download.
[3] M. Zaeni Mustofa. Model – Model Pengembangan kurikulum. (21/04/2012), (07.15 am), download.
[4] Ibid.download
[5] Dimyati & Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, 2006 (Jakarta : Rineka Putra), hlm. 282
[6] Sukanto, Pengembangan Kurikulum, Op. Cit , hlm. 74
[7] Ibid. hlm. 75

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar